Makna Qadr secara leksikal dan pergeseran maknanya
Tulisan ini sebetulnya adalah salah satu persiapan materi yang akan saya sampaikan pada rapat zoom mendatang dengan teman saya, agar materi lebih terstruktur jadi saya buat tulisan ini. Sekaligus coba buat today i learned yang sudah dari lama pengin dibuat tapi ngga jadi jadi :)
Secara leksikal qadr itu artinya adalah takaran, ukuran , bersinonim juga dengan takqdir. Seorang leksikografer bernama raghib al isfahani membuat buku yang membahas hal ini tahun 1100 an kalau tidak salah, takaran yan dimaksud adalah seperti ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Allah untuk ciptaanya, atau simpelnya adalah aturan yang ditetapkan biasanya terkait sunatullah, contohnya adalah bahwa matahari itu mengelilingi galaksi, manusia bernapas memerlukan oksigen, bumi mengelilingi matahari dan seterusnya. Di masa pre islamic bangsa arab qadr itu tidak mengenal qadr dengan predestinasi namun kenapa di masa sekarang ini makna qadr itu lebih dikenal dengan ketetapan yang Allah buat terhadap hambanya dengan kata lain takdir/predestinasi ? pergeseran makna tersebut cukup panjang sejarahnya, prof mtk yang juga seorang muallaf membahas hal ini mengatakan bahwa ini adalah pergeseran makna teologis.
Pergeseran makna tersebut mulanya terjadi pada zaman bertahun tahun atau puluh tahun setelah nabi wafat di mana pada saat itu dinasti umayyah sedang berkuasa, para penguasa pada saat itu mempopulerkan narasi bahwa kekuasaanya itu adalah kehendak allah, termasuk kebijakan mereka yang mendzolimi rakyat, penumpasan pemberontak berdarah hal itu guna membungkam kritik rakyat, mereka menggunakan paham jabariyah
jabariyah ini merupakan kelompok atau aliran yang berpandangan bahwa semua yang terjadi di hidup manusia itu adalah munrni ketetapan allah dalam artian kita tidak memiliki kehendak bebas, atau biasa disebut dengan fatalisme kalau saya baca2, golongan yang bertolak belakang dengan jabariyah adalah qodariyah, golongan ini adalah yang mempercayai bahwa manusia itu memiliki kehendak bebas sehingga setiap perbuatan manusia itu akan dipertanggung jawabkan.
ada seorang ulama besar pada era itu yang bernama hasan al basri, beliau menyurati salah satu pemimpin umayah pada saat itu pada intinya adalah dia tidak setuju bahwa tindakan semena mena penguasa adalah kehendak tuhan, dia beranggapan mirip seperti qodariyah bahwa manusia itu memiliki kehendak bebas maka dari itu penguasa tidak bisa seenaknya berbuat jahat dan bersembunyi dibalik kata qadr. nah dari sini saya baru tahu pengetahuan yang cukup menarik bagi saya pribadi yaitu hasan al basri ini memiliki seorang murid yang mana bernama wasil bin ata, dia adalah seorang pendiri aliran mu’tazillah, awalnya wasil ini berguru kepada hasan al basri, namun dia berbeda pandangan dengan hasan al basri terkait dosa besar yang dilakukan oleh manusia, sehingga dia memisahkan diri dari pengajian hasan al basri, memisahkan diri inilah yg jadi asal usul kata mutazilah, wasil memiliki pandangan bahwa manusia yang berbuat jahat itu bukan kafir tapi bukan juga mukmin, dia itu ada di tengah2, kalau bertobat dia akan diampuni dan masuk surga, walaupun dibersihkan dulu di neraka, sedangkan gurunya yaitu hasan al basri menganggap seorang muslim yang berbuat dosa besar itu masih muslim, dan tetap bisa bertaubat dan akan diampuni dosanya .
Oke sekarang masuk kembali ke bahsan mutazillah karna ini cukup menarik, mutazilah itu kelompok yang sangat mengandalkan akal atau rasional, segala sesuatu yang ada di dunia ini harus dirasionalkan, mutazilah ini bahkan menganggap apabila ada ayat al quran itu yang tidak rasional maka itu harus ditafsirkan secara taqwil (kalau tidak salah) intinya berarti ayat tersebut adalah sebuah metafora, bukan bermakna aslinya. salah satu hal yang ekstrem dilakukan kaum mutazillah adalah menganggap bahwa al quran adalah mahkluk allah dikarenakan sifatnya itu tidak boleh menyamai Allah sang pecipta, karna nanti menduakan. oh ya kembali lagi ke bahasan qadr bahwa ada satu pandangan lagi yang menengahi antara mutazillah dengan jabariyah yaitu al asyhari, beliau mantan mutazillah namun keluar karna tidak sependapat lagi denagn mereka yang terlalu ekstrem, dia mengambil jalan tengah bahwa segala sesuatu itu Allah yang menciptakan namun manusia itulah ibaratnya yang menjemput atau mengambil tindakan.
balik lagi ke mutazillah , mereka ini mengalami masa puncak kejayaan pada masa dinasti abasiyah dengan khalifah pada saat itu adalah ma’mun , tahun 800-900 sekian (kalau tidak lupa). bahkan sampai dijadikan mahzab resmi. pemahanman yang sangat mengutamakan rasionalitas inilah yang menjadikan bayt al hikmah atau peradaban islam pada umumnya mengalami masa keemasan. teks teks dari para filsafat yunani, dan ilmu ilmu lainya itu diterjemahkan secara besar besaran ke dalam bahasa arab. namun pandangan mutazillah yang ekstrem ini ternyata juga memiliki dampak yang buruk juga, suatu masa di puncak kejayaanya terjadilah mihna yaitu ulama ulama dan masyarakat yang tidak sepakat bahwa al quran adalah mahluk akan ditindak tegas, bahkan imam ahmad bin hambal juga termasuk korban penyiksaan atas hal tersebut. lama kelamaan masyarakat jengal juga dan terjadilah perlawanan hingga akhirnya mutazillah ini tidak lagi jadi mahzab dan mereka diburu .
Mazhab yang dianut setelahnya itu semacam berada di tengah mirip seperti al asyari (itulah seperti yang dianut kebanyakan muslim di indonesia saat ini), sebetulnya saya ingin membahas lagi keterkaitan hal tersebut, temanya cukup berkelanjutan kayaknya, yaitu tentang al ghazali yaitu kritiknay terhadap para filsuf dengan bukunya berjudul tahafut al falasifah, artinya kerancuan para filsuf, dan juga bantahan dari ibnu rusyd (aveeros) yang membela para filsuf dengan argumen utama bahwa kita tidak bisa menghilangkan logika kalau logika hilang begitu pula pengetahuan (btw pemikiran ibnu rusyd ini yang memicu terjadinya reinasence, kebangkitan eropa ). tapi itu akan sangat panjang , nanti saya akan buat besok atau lusa, masih pengin baca2 juga terkait itu soalnya.
oke terkait takdir lagi , Allah itu maha mengetahui, artinya ke Allah mengetahui masa depan juga kan? untuk setiap hambanya -> apakah artinya masa depan sudah terjadi -> kalau masa depan sudah terjadi apakah artinya masa depan kita sudah ditentukan ? jawabanya adalah tidak, kita tetap memiliki kehendak bebas, Allah mengetahui masa depan kita itu karna sifat Allah yang maha tahu, bukan Allah mengetahui masa depan kita sehingga pilihan kita itu akan sama dengan yang Allah lihat di masa depan tersebut namun, karna kita memilih masa depan tersebut sehingga Allah melihat masa depan itu,
Allah itu transenden artinya tidak terikat oleh waktu, bagi Allah waktu itu hanya satu jalur, masa lalu, sekarang dan masa depan itu Allah lihat sebagai satu kesatuan, tidak seperti manusia yang melihat waktu itu kontinuitas atau berjalan maju, Allah melihat segalanya sekaligus jadi satu. tapi memang logika ini agak memusingkan, jika Allah sudah tahu masa depan kita berarti kan masa depan sudah terjadi? (dari sudut pandang manusia) kalau begitu berarti masa depan sudah ditetapkan ? atau masa depan yang Allah lihat itu ya krna hasil dari kehendak bebas yang kita pilih. saya baca analogi yang cukup bagus sih, ibarat kita karakter di dalam film, Allah itu “entitas” yang melihat film itu dari luar, nah karakter2nya itu kan bebas ya mau ngapai aja sesuai dengan kehendak bebas mereka, nah Allah tahu masa depan itu artinya bahwa Allah itu tahu bagian tengah, bahkan akhir dari film itu (kejadian tiap manusia) hanya karena Allah memang berada di luar waktu. Kalimat penutup , Kemahatahuan Allah != Pemaksaan terhadap tindakan manusia.