Dalam Islam, menuntut ilmu dan berkumpul dalam majelis memiliki adab serta doa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Doa dipanjatkan agar ilmu yang dipelajari membawa keberkahan dan kemudahan, serta doa penutup majelis (kafaratul majlis) dibaca untuk menghapus kekhilafan selama pertemuan berlangsung.


1. Doa Belajar & Memohon Ilmu yang Bermanfaat

A. Doa Memohon Ilmu yang Bermanfaat & Tambahan Ilmu

اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي ، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي ، وَزِدْنِي عِلْمًا
"Ya Allah, berilah manfaat atas apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, ajarkanlah kepadaku apa yang bermanfaat bagiku, dan tambahkanlah ilmu kepadaku."

Bacaan Latin:

Allāhumman-fa’nī bimā ‘allamtanī, wa ‘allimnī mā yanfa’unī, wa zidnī ‘ilmā.

Dalil Hadits:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ memanjatkan doa ini ketika memohon ilmu.
(HR. At-Tirmidzi no. 3599 & Ibnu Majah no. 251, dishahihkan oleh Al-Albani)


B. Doa Ringkas Tambahan Ilmu (Al-Qur’an)

رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
"Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku."

Bacaan Latin:

Rabbi zidnī ‘ilmā.
(QS. Thaha: 114)


C. Doa Memohon Kemudahan Menghadapi Kesulitan Belajar

Saat materi terasa sulit dipahami atau membutuhkan konsentrasi dan kefahaman:

اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا ، وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا
"Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah, dan Engkau menjadikan kesulitan (kesedihan) jika Engkau kehendaki menjadi mudah."

Bacaan Latin:

Allāhumma lā sahla illā mā ja’altahu sahlā, wa anta taj’alul-hazna idzā syi’ta sahlā.

Dalil Hadits:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, doa ini biasa dibaca oleh Rasulullah ﷺ saat menghadapi perkara yang sulit.
(HR. Ibnu Hibban no. 974, dinilai shahih oleh Ibnu Hajar)


D. Doa Pagi Hari untuk Ilmu, Rezeki, & Amal Shalih

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا ، وَرِزْقًا طَيِّبًا ، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik (halal), dan amal yang diterima."

Bacaan Latin:

Allāhumma innī as-aluka ‘ilman nāfi’an, wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan.
(HR. Ibnu Majah no. 925 & Ahmad no. 26521)


2. Doa Kafaratul Majlis (Penutup Majelis)

Doa ini dibaca ketika hendak berdiri atau berpisah dari suatu perkumpulan, forum belajar, musyawarah, atau majelis obrolan.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
"Maha Suci Engkau, ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampunan kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu."

Bacaan Latin:

Subhānakallāhumma wa bihamdika, asyhadu allā ilāha illā anta, astaghfiruka wa atūbu ilaik.


Dalil Hadits Kafaratul Majlis

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ جَلَسَ فِي مَجْلِسٍ فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ، فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ

“Barangsiapa yang duduk di suatu majelis lalu banyak perkataan yang tidak bermanfaat (sia-sia) di dalamnya, kemudian sebelum bangkit dari majelis itu ia membaca: ‘Subhānakallāhumma wa bihamdika, asyhadu allā ilāha illā anta, astaghfiruka wa atūbu ilaik’, niscaya diampuni baginya kekhilafan yang terjadi selama berada di majelis tersebut.”
(HR. At-Tirmidzi no. 3433 & Abu Dawud no. 4858, dishahihkan oleh Al-Albani)


Keutamaan & Faedah Membaca Doa Kafaratul Majlis

  1. Penebus Dosa & Kekhilafan (Kaffarah):
    Manusia tidak luput dari salah kata, ghibah kecil, candaan berlebihan, atau obrolan tanpa faedah saat berkumpul. Doa ini menjadi pelebur dosa-dosa kecil tersebut.

  2. Stempel Kebaikan (Khatamul Khair):
    Dalam riwayat Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ setiap kali selesai membaca Al-Qur’an, shalat, atau bangkit dari majelis selalu membaca doa ini. Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Jika majelis itu adalah majelis kebaikan (ilmu/dzikir), maka doa ini menjadi stempel (pengunci pahala) baginya. Dan jika majelis itu ada kekhilafan, maka doa ini menjadi penebusnya.” (HR. An-Nasa’i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 308)

  3. Memperbaharui Tauhid dan Istighfar:
    Menutup setiap pertemuan dengan menyucikan Allah (tasbih), memuji-Nya (tahmid), mengesakan-Nya (syahadat tauhid), serta memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya.