Paradoks Peto adalah observasi biologis bahwa tingkat kejadian kanker pada spesies tidak berkorelasi dengan ukuran tubuh atau masa hidupnya.

Secara teori probabilitas, setiap pembelajan sel membawa risiko mutasi DNA. semakin banyak sel yang dimiliki suatu organisme dan semakin lama ia hidup, semakin sering sel membelah. Logikanya hewan raksasa kaya paus biru atau gajah mestinya terkena kanker jauh sebelum mencapai usia reproduksi. namun di alam liar, angka kanker pada gajar justru di bawah 5%, jauh lebih rendah dibanding manusia(20-25%) atau anjing.

Paradoks peto

Pertama kali dicetuskan oleh ahli epidemiologi richard Peto tahun 1977. Tekanan seleksi alam memaksa spesies raksasa mengembangkan mekanisme biologis khusus agar ukuran tubuh mereka tidak menjadi bumberang genetik

mekanisme evolusiner solusi peto

  1. Penggandaan Gen Penekan TUmir manusia hanya punya 1 pasang gen tp53,gajar punya 20 pasang, kelebihan ini membuat sel gajah yg mengalami kerusakan DNA tidak berusaha memperbaiki diri secara lambat, tapi langsung memicu apoptosis (bunuh diri sel terprogram) secara agresif

  2. Gen “Zombie” (LIF6) sel rusak bisa mati seketika berkat LIF6

  3. Mekanisme Perbaikan tes DNA tingkat lanjut pada paus

  4. Laju metabolis massa sepsifik yg rendah, hewan besar punya metabolisme per gram jaringan jauh lebih lambat dibanding hewan kecil