Hari ini saya belajar hal yang sangat mendalam dari khutbah idul adha syakh abdal hakim murad. beliau membedah kembali isi khutbah terakhir atau khutbah wada’ rasulullah. Selama ini kita tahu banyak sahabat nabi menangis di momen itu karna sadar ajal nabi sudah dekat. Tapi dari suduh pandang sejarah, mereka juga menangis karena sadar sebuah era baru yang radikal telah lahir. Sebelum islam, bangsda arab dikuasai oleh hukum rimba atau ‘mafia culture’/

Budaya balasa dendam antarsuku yang gak pernah selesai bergenerasi2. Tapi di khutbah itu nabi dengan tegas menghapus semua dendam masa lalu dan menyatakan bahwa darah serta harta sesama manusia itu suci. Di sinilah peradaban hukum formal dan keadilan resmi ditegakkan menggantikan budaya kekerasan

Kritik Sistem Ekonomi

Menariknya, khutbah yang disampaikan ribuan tahun lalu ini ternyata menjadi kritisk keras untuk sistem ekonomi modern saat ini. Syakh abdal hakim menyoroti bagaimana larangan riba dalam khutbah terakhir sebenarnya adalah tameng sosial. Hari ini kita hidup di tengah ’turbo-capitalism’. Harga rumah melonjak gila2an, jerata utang kartu kredit biki banyak orang depresi, bahkan negara2 berkembang terpuruk akibat gunung utang luar negeri. Larangan riba dari nabi bukan sekadar aturan ritual keuangan melainkan pilar keadilan untu melindungi hal orang orang miskin agar tidak dieksploitasi oleh sistem yang serakah.

Solusi krisis mental & Ego

Lalu apa tantangan terbesar kita sekarang ? Nabi bersabda bahwa setan telah putus asa untuk disembah di tanah Arab. Tapi, setean beralih ke strategi lain : menghasut kita lewat hal hal kecil melalui Nafs atau ego kita sendiri. Bisikan untuk pelit, curang, merasa paling benar, atau meremehkan orang lain .

Syakh abdal hakim berkata, musuh terbesar kita saat ini ada di dalam cermin. Kunci kedamaian dunia dimulai dari menjinakkan ego sendiri. Ketika kita bisa mengontril ego, hubungan keluarga akan harmonis, tetangga akan merasa aman, bahkan orang non-muslim pun akan merasakan indahnya cahaya ahlak kita.