Sekitar 20.000 tahun yang lalu, pulau pulau di indonesia kecuali sulawwesi dan ke timur itu mereka tergabugn jadi satu makanya orangutan bisa ada di jawa,sumatra kalimantan tapi tidak ada di sulawesi karna sebabnya adalah dulu di batas pulau sumatra itu ada lautnya alias terpisah tapi yg bagian agak barat itu menyatu, sekarang juga laut yg ada di sekitar pulau jawa sumatra kalimantan juga ga dalem2 banget ekitar 50 meter, dulu daratan itu ada sungai2 dsb, sekarang karna permukaan air laut naik era modern ini jadi seperti dekarang lah pulau pulau indonesia nampak

Penjelasan Tambahan
Sundaland adalah sebutan untuk daratan luas di Asia Tenggara yang dulu muncul ketika permukaan laut jauh lebih rendah dari sekarang. Daratan ini mencakup Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, yang semuanya berdiri di atas satu landasan benua yang sama, yaitu Paparan Sunda (Sunda Shelf).
Kenapa bisa jadi daratan?
Pada puncak Zaman Es terakhir (Last Glacial Maximum), sekitar 26.000–19.000 tahun lalu, sebagian besar air bumi terkunci dalam bentuk lapisan es raksasa di belahan bumi utara. Akibatnya, permukaan laut global turun sekitar 120–130 meter dari posisi sekarang. Karena laut di atas Paparan Sunda umumnya dangkal (Laut Jawa rata-rata hanya sekitar 40–50 meter, dan sebagian besar paparan kurang dari 100 meter), dasar laut tersebut menjadi daratan kering seluas kurang lebih 1,8 juta km², kira-kira dua kali luas Kalimantan.
Penting dicatat, ini bukan kejadian sekali saja. Sepanjang zaman Pleistosen (±2,6 juta–11.700 tahun lalu), siklus glasial dan interglasial berulang berkali-kali, sehingga Sundaland berulang kali muncul lalu tenggelam lagi.
Sungai purba di dasar laut
Di daratan Sundaland dulu mengalir sistem sungai besar. Ahli geologi Belanda, G.A.F. Molengraaff, pada awal abad ke-20 memetakan jejak lembah sungai purba ini di dasar Laut Jawa dan Laut Cina Selatan. Dua yang paling dikenal:
- Sungai Sunda Utara (Molengraaff River): menampung aliran dari Sumatra bagian timur dan Kalimantan bagian barat, mengalir ke utara menuju Laut Cina Selatan.
- Sungai Sunda Timur: mengalir di bawah Laut Jawa sekarang, ke arah timur menuju sekitar Bali.
Bukti pendukungnya antara lain kemiripan jenis ikan air tawar di sungai-sungai yang sekarang terpisah laut, misalnya antara sungai di Sumatra (seperti Musi) dan Kalimantan (seperti Kapuas). Ikan air tawar tidak bisa menyeberangi laut, jadi kemiripan itu menunjukkan sungai-sungai tersebut dulu pernah tersambung.
Garis Wallace: kenapa Sulawesi tidak ikut tersambung
Di sebelah timur Kalimantan dan Bali terdapat selat yang sangat dalam, yaitu Selat Makassar (kedalaman hingga lebih dari 2.000 m) dan Selat Lombok (sekitar 250 m di titik tersempitnya). Bahkan saat laut turun 120 meter, selat-selat ini tetap berupa laut, sehingga hewan darat dari Sundaland tidak bisa menyeberang ke timur.
Batas ini dikenal sebagai Garis Wallace, dinamai dari naturalis Inggris Alfred Russel Wallace yang menjelajahi Nusantara pada 1854–1862 dan menyadari perbedaan fauna yang mencolok antara pulau-pulau yang jaraknya hanya puluhan kilometer, misalnya Bali dan Lombok.
Wilayah Indonesia kemudian bisa dibagi menjadi tiga zona:
| Zona | Wilayah | Ciri fauna |
|---|---|---|
| Paparan Sunda (barat) | Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali | Fauna Asia: harimau, gajah, badak, tapir, orangutan |
| Wallacea (tengah) | Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku | Banyak hewan endemik: anoa, babirusa, tarsius, komodo |
| Paparan Sahul (timur) | Papua, Kepulauan Aru (dulu menyatu dengan Australia) | Fauna Australia: kanguru pohon, kuskus, burung cenderawasih |
Wallacea tidak pernah tersambung ke Asia maupun Australia, itulah sebabnya Sulawesi punya banyak hewan unik yang tidak ditemukan di tempat lain.
Soal orangutan
Saat ini orangutan liar hanya ada di Sumatra dan Kalimantan. Namun fosil orangutan dari zaman Pleistosen memang pernah ditemukan di Jawa, bahkan juga di Vietnam dan Tiongkok selatan. Artinya, dulu orangutan tersebar luas di Sundaland dan daratan Asia, lalu punah di banyak tempat (termasuk Jawa) karena perubahan iklim, hilangnya hutan, dan kemungkinan perburuan oleh manusia. Hewan seperti harimau juga dulu tersebar di Sumatra, Jawa, dan Bali, yang kemudian berkembang menjadi subspesies berbeda setelah pulau-pulau terpisah.
Manusia purba dan Sundaland
Jalur darat Sundaland juga menjelaskan bagaimana manusia purba bisa sampai ke Jawa. Fosil Homo erectus di Sangiran dan Trinil (Jawa Tengah dan Timur) berumur hingga sekitar 1,5 juta tahun, dan mereka kemungkinan besar datang dengan berjalan kaki saat laut sedang surut. Manusia modern (Homo sapiens) juga melewati Sundaland dalam perjalanannya menuju Wallacea dan akhirnya Australia, yang untuk bagian terakhirnya mau tidak mau harus menyeberangi laut.
Tenggelamnya Sundaland
Setelah Zaman Es berakhir, es mencair dan permukaan laut naik kembali. Kenaikannya tidak selalu pelan; sekitar 14.500 tahun lalu terjadi lonjakan yang disebut Meltwater Pulse 1A, ketika laut naik sekitar 15–20 meter hanya dalam beberapa ratus tahun. Sebagian besar Sundaland tenggelam pada kurun 14.000–7.000 tahun lalu, hingga garis pantai mendekati bentuk yang kita kenal sekarang sekitar 7.000 tahun lalu.
Bagi orang yang tinggal di dataran rendahnya, ini berarti kehilangan daratan secara bertahap dalam hitungan generasi. Sebagian peneliti, seperti Stephen Oppenheimer dalam bukunya Eden in the East (1998), berpendapat bahwa banjir ini memicu migrasi besar dan bahkan menjadi asal-usul berbagai mitos banjir di Asia-Pasifik. Namun gagasan ini masih diperdebatkan dan belum menjadi konsensus ilmiah. Klaim populer bahwa Sundaland adalah “Atlantis yang hilang” juga tidak didukung bukti arkeologis.
Ringkasnya
- ±20.000 tahun lalu, laut ±120 m lebih rendah, sehingga Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, dan Semenanjung Malaya menyatu menjadi satu daratan.
- Laut di atas Paparan Sunda sekarang dangkal (umumnya < 100 m), sementara Selat Makassar dan Selat Lombok sangat dalam, sehingga Sulawesi dan wilayah timur tidak pernah tersambung.
- Inilah alasan utama perbedaan fauna Indonesia barat dan timur, yang dibatasi oleh Garis Wallace.