“Tuhan tidak bermain dadu” adalah kalimat Albert Einstein yang paling sering dikutip. Kalimat ini bukan pernyataan teologis, melainkan keberatan Einstein terhadap tafsir mekanika kuantum yang berkembang pada tahun 1920-an.

Asal kalimat

Kalimat ini muncul dalam surat Einstein kepada fisikawan Max Born pada 4 Desember 1926. Versi aslinya dalam bahasa Jerman:

“Die Quantenmechanik ist sehr achtunggebietend. Aber eine innere Stimme sagt mir, dass das doch nicht der wahre Jakob ist. Die Theorie liefert viel, aber dem Geheimnis des Alten bringt sie uns kaum näher. Jedenfalls bin ich überzeugt, dass der nicht würfelt.”

Terjemahan bebasnya: “Mekanika kuantum sangat mengesankan. Tetapi suara batin saya mengatakan bahwa ini belum yang sebenarnya. Teori ini memberi banyak hasil, tetapi hampir tidak mendekatkan kita pada rahasia Sang Tua. Bagaimanapun, saya yakin bahwa Dia tidak melempar dadu.”

“Sang Tua” (der Alte) adalah sebutan Einstein untuk Tuhan dalam pengertian yang longgar, yakni tatanan rasional di balik alam semesta. Frasa “Tuhan tidak bermain dadu” adalah pemadatan populer dari kalimat terakhir surat itu.

Konteks: apa yang ditolak Einstein

Pada 1926, Max Born mengusulkan bahwa fungsi gelombang dalam persamaan Schrodinger harus ditafsirkan sebagai probabilitas. Artinya, mekanika kuantum tidak memprediksi di mana sebuah partikel berada, hanya peluang partikel itu ditemukan di suatu tempat. Ketidakpastian ini bukan karena keterbatasan alat ukur, melainkan sifat dasar alam itu sendiri.

Tafsir ini kemudian dikenal sebagai tafsir Kopenhagen, dipelopori Niels Bohr dan Werner Heisenberg.

Einstein menerima bahwa mekanika kuantum berhasil secara matematis dan eksperimental. Yang ia tolak adalah klaim bahwa teori itu sudah lengkap. Menurutnya, probabilitas dalam mekanika kuantum menandakan ada sesuatu yang belum diketahui, bukan bahwa alam memang acak. Ia meyakini alam bekerja secara deterministik: jika semua kondisi awal diketahui, hasilnya bisa dipastikan.

Posisi ini ironis, karena Einstein sendiri adalah salah satu pendiri teori kuantum. Makalahnya tahun 1905 tentang efek fotolistrik, yang memberinya Nobel, adalah salah satu fondasi teori tersebut.

Perdebatan Bohr-Einstein

Keberatan Einstein memicu perdebatan panjang dengan Niels Bohr, terutama di Konferensi Solvay 1927 dan 1930. Einstein berulang kali mengajukan eksperimen pikiran untuk menunjukkan bahwa mekanika kuantum tidak konsisten atau tidak lengkap. Bohr berulang kali menjawabnya.

Menanggapi kalimat “Tuhan tidak bermain dadu”, Bohr dikabarkan membalas: “Einstein, berhentilah memberi tahu Tuhan apa yang harus Dia lakukan.”

Puncaknya adalah makalah EPR (Einstein, Podolsky, Rosen) tahun 1935. Makalah ini berargumen bahwa jika mekanika kuantum benar, dua partikel yang pernah berinteraksi akan tetap saling memengaruhi meski terpisah jauh, sesuatu yang disebut Einstein sebagai “aksi seram dari jarak jauh” (spukhafte Fernwirkung). Karena hal itu dianggap mustahil, kesimpulannya: mekanika kuantum belum lengkap, dan harus ada “variabel tersembunyi” yang belum ditemukan.

Siapa yang benar

Pada 1964, John Bell merumuskan teorema yang memungkinkan variabel tersembunyi diuji secara eksperimen. Eksperimen oleh Alain Aspect (1982) dan yang lebih ketat setelahnya menunjukkan hasil yang sesuai dengan mekanika kuantum dan bertentangan dengan teori variabel tersembunyi lokal seperti yang dibayangkan Einstein. Aspect, John Clauser, dan Anton Zeilinger menerima Nobel Fisika 2022 untuk eksperimen ini.

Dalam hal ini, Einstein keliru. Fenomena yang ia anggap mustahil, keterikatan kuantum (entanglement), terbukti nyata dan kini menjadi dasar teknologi seperti komputer kuantum dan kriptografi kuantum.

Namun keberatan Einstein tidak sia-sia. Makalah EPR memaksa fisikawan merumuskan dengan tepat apa yang sebenarnya diklaim mekanika kuantum, dan itulah yang membuka jalan bagi teorema Bell dan seluruh bidang informasi kuantum.

Soal “Tuhan” dalam kalimat itu

Einstein bukan penganut agama dalam arti konvensional. Ia menyebut dirinya percaya pada “Tuhan Spinoza”, yaitu keteraturan dan harmoni alam semesta, bukan Tuhan personal yang mengatur nasib manusia. Jadi “Tuhan tidak bermain dadu” lebih tepat dibaca sebagai: alam semesta bekerja dengan aturan yang pasti, bukan secara acak.