Kalau mazhab fikih mengatur cara beribadah, mazhab akidah mengatur cara memahami keyakinan, terutama soal sifat Allah, takdir, dan peran akal terhadap wahyu. Dua yang terbesar adalah Asy’ariyah dan Maturidiyah.


Latar belakang: debat dengan Mu’tazilah

Pada abad 2-4 H, Mu’tazilah mengutamakan akal rasional dan menafikan sifat-sifat Allah yang dianggap menyerupakan Allah dengan makhluk (contoh: Al-Quran dianggap makhluk). Di sisi lain ada kelompok tekstualis (ahlul hadis) yang menolak kalam (teologi rasional).

Muncul dua tokoh yang mencoba membela akidah Sunni dengan perangkat rasional, tanpa menjadi Mu’tazilah.


Asy’ariyah

  • Pendiri: Abul Hasan al-Asy’ari (260-324 H), Baghdad/Bashrah. Awalnya murid Mu’tazilah, lalu berbalik membela pandangan Sunni.
  • Pusat perkembangan: Baghdad, Mesir, Syam, Afrika Utara, Nusantara.
  • Tokoh besar pengikutnya: Al-Baqillani, Al-Juwaini, Al-Ghazali, Ar-Razi, An-Nawawi, Ibnu Hajar al-Asqalani.
  • Ciri: menetapkan sifat Allah (20 sifat wajib yang populer di pesantren), memakai takwil untuk ayat-ayat sifat tertentu agar tidak menimbulkan kesan Allah menyerupai makhluk.
  • Afiliasi fikih: banyak Syafi’i dan Maliki.

Maturidiyah

  • Pendiri: Abu Manshur al-Maturidi (w. 333 H), Samarkand (Asia Tengah).
  • Ciri: lebih memberi ruang pada akal untuk mengenal kebaikan dan keburukan sebelum wahyu, dalam batas tertentu. Kedua mazhab sama-sama Sunni dan perbedaannya sebagian besar pada rincian.
  • Afiliasi fikih: umumnya Hanafi. Kekhalifahan Utsmani memakainya secara luas.

Perbedaan Asy’ariyah dan Maturidiyah dianggap kecil dan teknis oleh kebanyakan ulama (misalnya soal iman bertambah-berkurang, peran akal, sifat takwin).


Bagaimana dengan Atsariyah?

Atsariyah (jalur ahlul hadis, Ahmad bin Hanbal, lalu Ibnu Taimiyah) memilih tafwidh atau menetapkan sifat sebagaimana disebutkan teks tanpa takwil dan tanpa menanyakan “bagaimana” (bila kaif). Mereka cenderung tidak nyaman dengan perangkat kalam.

Asy’ariyah/Maturidiyah Atsariyah
Metode Rasional-tekstual, memakai ilmu kalam Tekstual, menghindari kalam
Ayat sifat Takwil atau tafwidh makna Menetapkan sebagaimana tertulis, tanpa tahu hakikatnya
Penyebaran Mayoritas dunia Islam Terutama Hanbali, salafi

Perdebatan keduanya panjang dan kadang panas: sebagian salafi menilai Asy’ariyah “menyimpang”, sebagian Asy’ariyah menilai sebagian salafi jatuh ke dalam antropomorfisme (tajsim). Tapi banyak ulama dari kedua arus juga menolak saling mengafirkan.


Di Indonesia

Mayoritas pesantren dan NU mengajarkan Asy’ariyah (dan Maturidiyah), biasanya lewat kitab seperti Aqidatul Awam dan Kifayatul Awam. Muhammadiyah lebih menekankan langsung ke Quran-Sunnah dan tidak mewajibkan satu mazhab kalam tertentu, dan banyak warganya berpaham yang dekat dengan pandangan salaf.


Pelajaran

  • Dua arus besar Sunni ini mencari jalan tengah antara akal dan teks.
  • Jangan menilai perbedaan ini sebagai “iman vs kafir”, tapi perbedaan metode memahami teks yang sama.
  • Lihat juga Ahlussunnah wal Jamaah dan Al-Ghazali.