Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja, disebut juga Sunni) secara harfiah: “orang-orang yang berpegang pada sunnah dan jamaah”.

  • Sunnah: jalan Nabi ﷺ dan para sahabat
  • Jamaah: kebersamaan umat, tidak memisahkan diri dari mayoritas

Asal istilah

Istilah ini mengkristal setelah peristiwa fitnah (perpecahan politik) di zaman sahabat, lalu munculnya kelompok seperti Khawarij, Syiah, Qadariyah, Murji’ah, dan Mu’tazilah. Kelompok yang berpegang pada pemahaman sahabat dan tidak ikut ekstrem disebut Ahlussunnah.

Dasar yang sering dikutip adalah hadis tentang umat yang terpecah menjadi 73 golongan, dan satu yang selamat, yaitu yang “di atas apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya”. Ulama berbeda pendapat soal derajat hadis dan tafsirnya, dan hadis ini sering dipakai untuk saling klaim.


Definisi luas vs sempit

Definisi luas (paling umum): Sunni = selain Syiah, Khawarij, dan Mu’tazilah. Mencakup tiga arus akidah:

  1. Asy’ariyah (pendiri: Abul Hasan al-Asy’ari)
  2. Maturidiyah (pendiri: Abu Manshur al-Maturidi)
  3. Atsariyah/Hanabilah (mengikuti jalur Ahmad bin Hanbal yang menahan diri dari takwil)

Ini pemahaman mayoritas ulama, termasuk yang dirumuskan di institusi seperti Al-Azhar.

Definisi sempit: sebagian kalangan salafi membatasi Aswaja pada jalur salaf/atsari, dan menilai Asy’ariyah-Maturidiyah menyimpang dalam beberapa masalah sifat Allah. Sebaliknya, sebagian pendukung Asy’ariyah menilai salafi terlalu literal dalam memahami teks sifat.


Aswaja ala NU

NU merumuskan Aswaja dengan tiga pilar:

  • Akidah: Asy’ari dan Maturidi
  • Fikih: salah satu dari empat mazhab
  • Tasawuf: Junaid al-Baghdadi dan Al-Ghazali

Rumusan ini berakar pada pemikiran KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU), dan kemudian dirapikan dengan sikap khas: tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), i’tidal (tegak lurus), dan tasamuh (toleran).


Kenapa jadi rebutan?

Karena label ini punya bobot legitimasi. Yang dianggap di luar Aswaja mudah dicap “ahli bid’ah” atau lebih jauh lagi. Akibatnya hampir semua kelompok Sunni berkata: “Kami yang sebenarnya Ahlussunnah.”

Muhammadiyah juga termasuk Sunni dan tidak menolak label Ahlussunnah, tetapi tidak menjadikan “Aswaja” sebagai identitas organisasi dengan rumusan tiga pilar seperti NU.


Pelajaran

  • Aswaja adalah payung besar, jangan samakan dengan satu organisasi.
  • Perdebatan “siapa Aswaja sejati” biasanya soal definisi, bukan soal fakta.
  • Lihat juga Asy’ariyah dan Maturidiyah dan peta istilah.