Gambut adalah lapisan tanah yang terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan (daun, ranting, akar) yang tidak membusuk sempurna karena terus terendam air. Kondisi minim oksigen menghambat kerja bakteri pengurai, sehingga bahan organik menumpuk selama ribuan tahun. Ketebalan lapisan gambut bisa mencapai belasan meter.
Indonesia memiliki lahan gambut tropis terluas di dunia, sekitar 13-15 juta hektar, tersebar terutama di Sumatera, Kalimantan, dan Papua.
Peran gambut
Gambut berfungsi sebagai penyimpan karbon. Per hektar, gambut menyimpan karbon sekitar 10-20 kali lebih banyak dibanding hutan di tanah mineral. Meski luasnya hanya sekitar 3% dari daratan bumi, karbon yang tersimpan di dalamnya melebihi total karbon seluruh hutan di dunia.
Selama gambut tetap basah, karbon tersebut tetap terkunci di dalam tanah.
Sumber masalah
Masalah muncul ketika gambut dikeringkan. Untuk dijadikan perkebunan (sawit, akasia) atau pertanian, biasanya dibangun kanal drainase agar air keluar dari lahan. Begitu kering, dua hal terjadi:
- Bahan organik yang sebelumnya terendam mulai terurai dan melepaskan CO2 secara perlahan dan terus-menerus setiap tahun.
- Gambut kering menjadi sangat mudah terbakar. Yang terbakar bukan hanya vegetasi di atasnya, tetapi lapisan tanahnya sendiri. Api dapat merambat di bawah permukaan selama berminggu-minggu dan sulit dipadamkan karena penyiraman dari atas tidak menjangkau titik api di bawah.
Kebakaran 2015
Tahun 2015 menjadi contoh paling parah. Kebakaran hutan dan lahan gambut di Sumatera dan Kalimantan berlangsung sekitar tiga bulan (Agustus-Oktober), diperparah oleh El Nino yang memperpanjang musim kemarau.
Beberapa angka:
- Emisi harian dari kebakaran di Indonesia pada puncaknya diperkirakan 15-20 juta ton CO2 per hari.
- Emisi harian seluruh ekonomi Amerika Serikat (listrik, transportasi, industri, dan sektor lainnya) sekitar 15 juta ton CO2 per hari.
- Menurut catatan World Resources Institute (WRI), pada 26 dari 44 hari kebakaran, emisi harian Indonesia melebihi emisi harian seluruh AS.
- Total emisi kebakaran 2015 diperkirakan 1,5-1,75 miliar ton CO2e, setara sekitar 3-4 bulan emisi AS.
Meluruskan klaim yang beredar
Ada klaim yang menyebut gambut dalam seminggu menghasilkan karbon lebih banyak dari industri AS selama berbulan-bulan. Klaim ini berlebihan.
Perbandingan yang tepat adalah hari dengan hari: pada hari-hari terburuk, emisi harian kebakaran Indonesia memang melampaui emisi harian AS. Namun jika dihitung per minggu, emisi puncak kebakaran kira-kira setara dengan 7-9 hari emisi AS, bukan berbulan-bulan.
Hal lain yang perlu diluruskan: gambut yang utuh dan basah bukan penghasil karbon, melainkan penyimpan karbon. Emisi besar berasal dari gambut yang dikeringkan lalu terbakar.
Upaya restorasi
Sejak 2016 pemerintah membentuk Badan Restorasi Gambut (kini Badan Restorasi Gambut dan Mangrove, BRGM). Pendekatan utamanya dikenal sebagai 3R:
- Rewetting: membasahi kembali gambut dengan menyekat kanal drainase agar muka air tanah naik.
- Revegetasi: menanam kembali dengan tanaman asli rawa gambut.
- Revitalisasi: menyediakan alternatif mata pencaharian bagi masyarakat sekitar agar tidak bergantung pada pembakaran atau pengeringan lahan.
Prinsip dasarnya: gambut basah aman, gambut kering berbahaya.