Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, dan salah satu yang terbesar di dunia. Keduanya sama-sama Sunni, sama-sama cinta Indonesia, tapi lahir dari konteks dan gaya yang berbeda.


Muhammadiyah (1912)

  • Pendiri: KH Ahmad Dahlan, Yogyakarta, 18 November 1912
  • Latar: terinspirasi gerakan pembaruan di Timur Tengah (Muhammad Abduh, Rasyid Ridha), dan melihat umat terbelakang dalam pendidikan dan kesehatan
  • Basis awal: perkotaan, pedagang, kelas menengah
  • Corak: tajdid (pembaruan) dan tanzih/purifikasi: memurnikan akidah dari takhayul, bid’ah, dan khurafat, sekaligus modernisasi
  • Fikih: tidak terikat satu mazhab, merujuk Quran dan Sunnah lewat Majelis Tarjih
  • Amal usaha: ribuan sekolah, universitas, rumah sakit, panti asuhan
  • Khas: menentukan awal bulan dengan hisab (astronomi), tidak bersandar rukyat

Nahdlatul Ulama (1926)

  • Pendiri: KH Hasyim Asy’ari (Tebuireng, Jombang) bersama KH Wahab Chasbullah dan ulama lain, 31 Januari 1926
  • Latar: respons terhadap dua hal: gerakan pembaruan yang mengkritik tradisi, dan pemberlakuan Wahabi di Hijaz oleh Ibnu Saud yang mengancam mazhab-mazhab dan makam-makam bersejarah. Para kiai mengirim delegasi (Komite Hijaz) untuk menjaga kebebasan bermazhab.
  • Basis awal: pesantren dan masyarakat pedesaan Jawa
  • Corak: Aswaja: Asy’ari/Maturidi dalam akidah, salah satu dari 4 mazhab (mayoritas Syafi’i) dalam fikih, tasawuf Al-Ghazali/Junaid
  • Khas: mempertahankan tradisi lokal yang tidak bertentangan dengan syariat (tahlilan, maulid, ziarah kubur, qunut), kaidah al-muhafazhah ‘ala al-qadim ash-shalih wal-akhdzu bil-jadid al-ashlah (menjaga yang lama yang baik, mengambil yang baru yang lebih baik)
  • Khas: rukyat dalam menentukan awal bulan, meski kini juga menimbang hisab

Perbandingan

Muhammadiyah NU
Berdiri 1912 (Yogyakarta) 1926 (Surabaya)
Pendiri KH Ahmad Dahlan KH Hasyim Asy’ari
Basis awal Perkotaan, modernis Pesantren, pedesaan
Metode fikih Langsung ke dalil, Tarjih Bermazhab (mayoritas Syafi’i)
Sikap terhadap tradisi Kritis, memurnikan Akomodatif selama tidak bertentangan syariat
Andalan gerakan Pendidikan, kesehatan modern Pesantren, majelis taklim
Penetapan bulan Hisab Rukyat (plus hisab sebagai pendukung)

Perbedaan furu’iyah yang sering muncul

  • Qunut subuh: NU melakukan, Muhammadiyah umumnya tidak
  • Tahlilan dan selamatan kematian: NU melakukan, Muhammadiyah umumnya menolak
  • Jumlah rakaat tarawih: NU 20, Muhammadiyah 8 + 3 witir (keduanya punya dasar)
  • Lafaz usalli, dan zikir keras setelah salat: beragam

Semua ini khilafiyah, bukan perbedaan pokok akidah.


Kesamaan yang sering terlupa

  • Sama-sama menolak negara Islam formal dan menerima NKRI dan Pancasila
  • Sama-sama mendirikan lembaga pendidikan besar
  • Sama-sama moderat dibanding gerakan transnasional
  • Banyak tokoh yang lintas organisasi, misalnya “NUhammadiyah” (warga NU berkultur Muhammadiyah dan sebaliknya)

Pelajaran

  • NU dan Muhammadiyah bukan “musuh”, melainkan dua jalan yang saling melengkapi (tradisi + pembaruan).
  • NU dan Muhammadiyah juga bukan sama dengan salafi/wahabi, walaupun ada sebagian irisan dengan Muhammadiyah dalam semangat purifikasi, dan sebagian irisan dengan salafi dalam menolak praktik tertentu.
  • Lihat peta istilah dan Ahlussunnah wal Jamaah.