Bayt al-Hikmah (بيت الحكمة, “Rumah Kebijaksanaan”) adalah perpustakaan sekaligus pusat penerjemahan di Baghdad pada masa Dinasti Abbasiyah. Dari sinilah karya-karya Yunani, Persia, dan India diterjemahkan ke bahasa Arab, dan dari sini pula lahir istilah yang kita pakai sampai sekarang: aljabar dan algoritma.


Asal-usul

  • Bermula sebagai perpustakaan istana (khizanat al-hikmah) pada masa Harun ar-Rasyid (786-809 M).
  • Berkembang pesat di masa putranya, Khalifah Al-Ma’mun (813-833 M), yang dikenal sangat haus ilmu.

Al-Ma’mun ini adalah khalifah yang sama yang mendukung Mu’tazilah dan memberlakukan Mihnah (lihat tulisan Mu’tazilah). Semangat mengagungkan akal di istana saat itu ikut mendorong gerakan penerjemahan filsafat Yunani.


Gerakan penerjemahan

Selama kurang lebih dua abad (abad ke-8 sampai ke-10 M), ratusan karya diterjemahkan:

  • Yunani: Aristoteles, Plato, Euclid (Elemen), Ptolemaeus (Almagest), Galen dan Hippokrates (kedokteran)
  • Persia: sastra dan tata negara
  • India: astronomi dan sistem angka India (termasuk konsep nol)

Banyak teks Yunani diterjemahkan lewat bahasa Suryani (Syriac) dulu, karena para penerjemahnya kebanyakan Kristen Nestorian yang menguasai Yunani, Suryani, dan Arab.

Penerjemah paling terkenal: Hunain bin Ishaq (809-873 M), seorang dokter Kristen. Ada kisah masyhur bahwa Al-Ma’mun membayarnya emas seberat buku yang ia terjemahkan, meski kisah ini kemungkinan besar dibesar-besarkan.

Gerakan ini juga terbantu oleh kertas. Teknik pembuatan kertas masuk dari Cina lewat Samarkand (setelah Pertempuran Talas, 751 M), dan pabrik kertas berdiri di Baghdad sekitar 794 M. Kertas jauh lebih murah daripada papirus atau perkamen, sehingga buku bisa diperbanyak.


Tokoh-tokoh

  • Al-Khawarizmi (±780-850 M): menulis Al-Kitab al-Mukhtashar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabalah, yang dipersembahkan untuk Al-Ma’mun. Kata al-jabr menjadi algebra, dan namanya yang dilatinkan (Algoritmi) menjadi algoritma. Ia juga memperkenalkan angka India ke dunia Arab, lalu ke Eropa.
  • Al-Kindi (±801-873 M): “Filsuf Arab” pertama, menulis tentang filsafat, optik, musik, dan analisis frekuensi untuk memecahkan sandi. Ini cikal bakal kriptanalisis (masih satu keluarga dengan tulisan Enigma dan RSA).
  • Banu Musa (tiga bersaudara): ahli matematika dan mesin, penulis Kitab al-Hiyal (Buku Alat-Alat Cerdik) yang berisi rancangan mekanisme otomatis.
  • Tsabit bin Qurrah (826-901 M): seorang Shabi’in dari Harran, matematikawan dan astronom, sekaligus penerjemah Euclid dan Archimedes.

Yang menarik: ilmuwannya datang dari berbagai latar, yaitu Muslim, Kristen, Shabi’in, Persia, dan Arab, dan semuanya bekerja di bawah dukungan khalifah.


Proyek ilmiah: mengukur bumi

Al-Ma’mun memerintahkan para astronom mengukur panjang satu derajat garis bujur di padang Sinjar (Irak utara). Dua tim berjalan ke utara dan ke selatan sampai ketinggian bintang berubah satu derajat, lalu jaraknya diukur. Hasilnya dipakai untuk memperkirakan keliling bumi, dan angkanya cukup dekat dengan nilai modern.

Al-Ma’mun juga membangun observatorium di Baghdad dan Damaskus untuk mengoreksi tabel astronomi Ptolemaeus.


Kehancuran

Tahun 1258 M, pasukan Mongol di bawah Hulagu Khan menghancurkan Baghdad. Perpustakaan-perpustakaannya dibakar dan buku-bukunya dibuang ke Sungai Tigris. Ada kisah terkenal bahwa air sungai berubah hitam karena tinta, lalu merah karena darah.

Peristiwa ini sering dianggap sebagai akhir Zaman Keemasan Islam.


Catatan sejarawan

Sebagian sejarawan modern (misalnya Dimitri Gutas) mengingatkan bahwa Bayt al-Hikmah kemungkinan bukan “universitas” atau akademi besar seperti yang sering digambarkan. Bisa jadi ia lebih tepat disebut perpustakaan istana. Gerakan penerjemahannya sendiri jauh lebih luas: didanai banyak pejabat, dokter, dan saudagar kaya di Baghdad, bukan hanya khalifah.

Jadi, yang benar-benar luar biasa bukanlah satu gedungnya, melainkan budaya ilmu di Baghdad saat itu.


Kenapa penting?

Banyak karya Yunani kuno selamat karena diterjemahkan ke bahasa Arab. Berabad-abad kemudian, terjemahan Arab itu (plus komentar ilmuwan Muslim seperti Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd) diterjemahkan lagi ke bahasa Latin di Toledo dan Sisilia, lalu ikut memicu Renaisans Eropa.

Ilmu itu seperti estafet: Yunani, India, dan Persia → Baghdad → Toledo → Eropa → kita.