Mu’tazilah adalah aliran teologi (kalam) yang mengedepankan akal dalam memahami agama. Nama ini berarti “yang memisahkan diri/menyendiri”. Mereka pernah menjadi mazhab resmi negara dan lahir sebagai cikal bakal ilmu kalam yang kemudian dilawan oleh Asy’ariyah dan Maturidiyah.


Asal nama

Kisah yang masyhur: di majelis Hasan al-Bashri (Bashrah), muncul pertanyaan tentang pelaku dosa besar: mukmin atau kafir?

  • Khawarij: kafir
  • Murji’ah: tetap mukmin
  • Washil bin Atha’ (murid Hasan al-Bashri): tidak mukmin dan tidak kafir, melainkan di antara dua kedudukan (al-manzilah bainal manzilatain), lalu ia menyendiri dari majelis. Gurunya berkata: i’tazala ‘anna (“ia menyisih dari kami”).

Pusat awalnya di Bashrah dan Baghdad, sekitar awal abad ke-2 H.


Lima prinsip pokok (al-ushul al-khamsah)

  1. At-Tauhid: keesaan Allah secara mutlak. Mereka menafikan sifat yang dianggap terpisah dari Dzat, karena bisa membuka pintu penyerupaan (tasybih). Quran dianggap makhluk (ciptaan).
  2. Al-‘Adl (keadilan): Allah Mahaadil, tidak mungkin menciptakan keburukan manusia lalu menghukumnya. Manusia bebas menciptakan perbuatannya sendiri.
  3. Al-Wa’d wal-Wa’id: janji surga dan ancaman neraka pasti terlaksana.
  4. Al-Manzilah bainal manzilatain: pelaku dosa besar di posisi tengah.
  5. Amar ma’ruf nahi munkar.

Ciri lain: akal mampu mengetahui baik dan buruk sebelum wahyu, dan wahyu ditafsirkan agar tidak bertentangan dengan akal (takwil).


Masa kejayaan: Mihnah

Pada masa Khalifah Al-Ma’mun (813-833 M), Mu’tazilah mendapat dukungan istana. Ia memberlakukan Mihnah (ujian): para ulama dipaksa mengakui Al-Quran adalah makhluk. Yang menolak disiksa atau dipenjara.

Tokoh yang paling terkenal bertahan: Ahmad bin Hanbal, yang dicambuk namun tidak menyerah. Ia menjadi simbol perlawanan ahlul hadis.

Mihnah berakhir di masa Al-Mutawakkil (848 M), dan Mu’tazilah kehilangan dukungan negara, meski pemikiran mereka tetap berkembang, terutama di kalangan Syiah Zaidiyah dan Imamiyah.


Tokoh penting

  • Washil bin Atha’ (pendiri)
  • Amr bin Ubaid
  • An-Nazham, Abul Hudzail al-‘Allaf
  • Al-Jahizh (sastrawan besar)
  • Qadhi Abdul Jabbar (abad ke-4-5 H)
  • Az-Zamakhsyari (penulis tafsir Al-Kasysyaf, sangat dihargai bahkan di kalangan Sunni untuk kajian bahasa)

Mengapa dianggap menyimpang oleh Sunni?

Ulama Sunni (Asy’ariyah, Maturidiyah, Atsariyah) mengkritik:

  • Menafikan sifat Allah dan menyatakan Quran makhluk
  • Memberi akal kedudukan di atas wahyu dalam hal-hal tertentu
  • Menyangkal melihat Allah di akhirat (ru’yatullah)
  • Mengingkari syafaat bagi pelaku dosa besar dalam bentuk tertentu
  • Metode Mihnah yang memaksa dianggap zalim

Namun, sebagian pengamat mencatat Mu’tazilah juga berjasa: mengembangkan metode argumentasi rasional, menghadapi filsafat Yunani dan agama lain, dan memberi dasar bagi ilmu kalam.


Mu’tazilah hari ini

Sebagai mazhab terorganisasi, Mu’tazilah nyaris punah. Tetapi pengaruhnya hidup dalam:

  • Syiah (terutama Imamiyah dan Zaidiyah) yang mengambil banyak pandangan rasionalnya
  • Pemikir modern seperti Muhammad Abduh yang sering dikaitkan dengan semangat rasional Mu’tazilah
  • Di Indonesia: gagasan Harun Nasution (“Teologi Islam Rasional”) mengangkat kembali corak Mu’tazilah, dan menuai pro-kontra

Pelajaran

  • Mu’tazilah menunjukkan ketegangan abadi antara akal dan wahyu dalam tradisi Islam.
  • Ironisnya, kelompok yang menyeru kepada kebebasan berpikir justru terjerumus memaksakan pandangan lewat kekuasaan (Mihnah).
  • Asy’ariyah dan Maturidiyah lahir sebagai jalan tengah yang menggunakan akal tanpa meninggalkan teks. Lihat Asy’ariyah dan Maturidiyah.
  • Lihat juga Sunni dan Syiah dan peta istilah.