Sunni dan Syiah adalah dua arus terbesar dalam Islam. Sunni sekitar 85-90% umat Islam, Syiah sekitar 10-15%. Perbedaannya bermula dari politik (kepemimpinan), lalu berkembang menjadi perbedaan teologi dan fikih.


Asal perpecahan: siapa pengganti Nabi?

Setelah Nabi ﷺ wafat (632 M), muncul pertanyaan: siapa yang memimpin umat?

  • Sunni: kepemimpinan (khilafah) diputuskan lewat musyawarah umat. Di Saqifah Bani Sa’idah, Abu Bakar dipilih, lalu Umar, Utsman, dan Ali (Khulafaur Rasyidin).
  • Syiah (dari Syi’atu Ali, “pengikut Ali”): Nabi telah menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai penerus, terutama pada peristiwa Ghadir Khum (“man kuntu maulah fa ‘aliyyun maulah”). Kepemimpinan seharusnya tetap pada Ahlul Bait.

Sunni juga menerima hadis Ghadir Khum, tetapi memaknai “maula” sebagai “pecinta/penolong”, bukan penunjukan sebagai pemimpin.

Peristiwa penentu

  • Perang Jamal dan Shiffin (656-657 M): konflik Ali dengan Aisyah, Thalhah, Zubair, dan Muawiyah.
  • Karbala (680 M): Husain bin Ali, cucu Nabi, gugur bersama keluarganya oleh pasukan Yazid. Peristiwa ini membentuk identitas Syiah dan diperingati setiap Asyura (10 Muharram) dengan duka.

Perbedaan pokok

Sunni Syiah (Itsna Asyariyah)
Kepemimpinan Khilafah, dipilih, pemimpin manusia biasa Imamah, ditunjuk Allah, 12 imam dari Ahlul Bait
Kemaksuman Hanya Nabi yang ma’shum Nabi dan para imam ma’shum (terjaga dari dosa)
Sahabat Semua sahabat dihormati, dinilai adil Menghormati sahabat yang setia pada Ali; sebagian sahabat dikritik keras
Rujukan hadis Kutubus Sittah (Bukhari, Muslim, dll.) Al-Kafi, Man La Yahduruhul Faqih, dan lain-lain (periwayatan Ahlul Bait)
Fikih 4 mazhab Mazhab Ja’fari (Imam Ja’far ash-Shadiq)
Ijtihad Ulama mujtahid Marja’ taqlid dan wilayat al-faqih (Iran)
Mahdi Ada yang meyakini, tapi tidak sentral Imam ke-12 (Al-Mahdi) sedang ghaib dan akan kembali
Asyura Puasa sunnah (mengikuti Nabi) Hari berkabung untuk Husain

Beberapa praktik ibadah berbeda

  • Salat boleh dijamak (digabung) lebih longgar di Syiah
  • Sujud di atas tanah/turbah (tanah Karbala) di Syiah
  • Adzan ada tambahan “hayya ‘ala khairil ‘amal” dan syahadat untuk Ali di sebagian Syiah
  • Nikah mut’ah diperbolehkan oleh Syiah, dilarang Sunni

Cabang-cabang Syiah

  1. Itsna Asyariyah (Imamiyah/Dua Belas): terbesar (Iran, Irak, Azerbaijan, Bahrain). Meyakini 12 imam.
  2. Zaidiyah: paling dekat dengan Sunni; tidak meyakini kemaksuman imam; dominan di Yaman.
  3. Ismailiyah: meyakini 7 imam (Ismail bin Ja’far); cabang seperti Bohra dan Aga Khan (Nizari).
  4. Alawiyah/Nushairiyah dan Druze: dianggap sempalan jauh, oleh banyak ulama bukan bagian dari Islam arus utama.

Persamaan

  • Satu Allah, satu Nabi Muhammad ﷺ, satu Al-Quran
  • Satu kiblat, haji ke Mekah
  • Rukun Islam yang sama (dengan sedikit perbedaan cara dan tambahan)
  • Sama-sama mencintai Ahlul Bait. Sunni pun memuliakan Ali dan keluarga Nabi (misalnya lewat selawat).

Mayoritas ulama di kedua pihak, termasuk fatwa Al-Azhar (1959, Syekh Mahmud Syaltut) dan Deklarasi Amman (2005), mengakui mazhab Ja’fari sebagai mazhab Islam yang sah untuk ibadah, dan menolak saling mengafirkan.

Namun ketegangan tetap ada, terutama soal celaan terhadap sahabat dan isu tahrif (tuduhan Al-Quran diubah) yang ditolak ulama Syiah arus utama.


Konteks modern

  • Politik: Iran (Syiah) vs Arab Saudi (Sunni) sering dibaca sebagai persaingan kawasan. Banyak analis menilai konflik di Irak, Suriah, Yaman, dan Lebanon lebih didorong politik dan kekuasaan daripada perbedaan akidah semata.
  • Indonesia: Syiah minoritas kecil (perkiraan hanya ratusan ribu hingga sekitar 1-3 juta, tergantung sumber). MUI dan sebagian ormas mengeluarkan pandangan kritis, sementara sebagian pihak mengingatkan agar perbedaan tidak berujung persekusi. Ada pula pengaruh budaya Syiah yang tidak disadari, misalnya tradisi Tabuik (Pariaman) dan Tabot (Bengkulu) yang berakar pada peringatan Asyura.

Pelajaran

  • Akar perbedaan Sunni-Syiah adalah kepemimpinan, bukan Tuhan atau Quran yang berbeda.
  • Syiah bukan satu kelompok tunggal (Zaidiyah jauh berbeda dari Itsna Asyariyah).
  • Jangan campur aduk perbedaan teologis dengan konflik politik antarnegara.
  • Lihat juga peta istilah, Ahlussunnah wal Jamaah, dan Mu’tazilah.